Hatshepsut: Firaun Perempuan Yang Nyaris Terlalaikan
SURABAYA, – Firaun yaitu gelar yang dipakai untuk seluruh penguasa Mesir antik dari semua kala. Dalam bahasa Inggris gelar itu disebut Pharaoh, dalam bahasa Ibrani disebut Paroh.
Dari seluruh abad penguasa Mesir antik, terdapat sejumlah firaun wanita yang tak kalah tangguhdibanding dengan firaun pria, seperti Nefertiti, Cleopatra, Sobekneferu, Twosret dan Hatshepsut.
Ratu Hatshepsut adalah Firaun ke-5 dari Dinasti ke-8 yang memerintah di zaman Mesir Kuno. Danang Nur Ihsan di laman Jeda menyebut Para ilmuwan banyak menanggap Ratu Hatshepsut merupakan seorang Firaun wanita yang paling berhasil di Mesir alasannya adalah masa jabatannya paling usang dibandingkan dengan perempuan penguasa manapun.
Hatshepsut disebut-sebut sangat kaya hingga berhasil membangun proyek yang mengangkat nama besar arsitektur Mesir Kuno seimbang dengan arsitektur klasik manapun.
Berikut ini ulasan menarik dari tim Ancient Origins yang mengupas sosok firaun wanita terlama yang memerintah Mesir Kuno.
Di bawah pemerintahannya, Mesir menjadi sejahtera. Ekonomi Mesir meningkat pesat selama beliau memimpin. Dia mengarahkan pembangunan dan perbaikan banyak bangunan, tugu peringatan, dan kuil.
Namun, sesudah kematiannya, penerus Hatshepsut mencoba untuk meniadakan semua jejak keberhasilannya. Namun, upaya itu tidak sukses. Peradaban terbaru dengan ilmu pengetahuannya yang memedahi berhasil membongkarnya.
Lebih dari 3.000 tahun setelah kematiannya, para arkeolog tertarik dan ingin tau ketika mereka berusaha memperoleh dan mengidentifikasi jenazahnya, dan perjuangan penghapusan jejak Hatshepsut gagal.
Terlahir pada 1508 SM, Hatshepsut yakni satu-satunya anak yang lahir dari raja Mesir Thutmose I dan istri dan ratu utamanya, Ahmose. Ketika Hatshepsut berusia 12 tahun, ayahnya meninggal. Dia menikahi kerabat tirinya Thutmose II, dan mengambil peran sebagai istri dan ratu utama.
Hatshepsut tetap menjadi ratu Thutmose II hingga beliau meninggal 15 tahun kemudian, meninggalkan Hatshepsut sebagai janda pada usia 27. Hatshepsut dan Thutmose II memiliki satu anak bersama – seorang putri berjulukan Neferure.
Thutmose II juga mempunyai seorang putra, Thutmose III, yang lahir dari seorang selir. Thutmose III yaitu bayi setelah ajal Thutmose II, jadi Hatshepsut menjabat sebagai wali. Akhirnya, ia melangkah dan mengambil tugas selaku firaun.
Alur demikian sangat tidak biasa pada saat itu. Para yang kuasa Mesir disangka sudah menetapkan bahwa tugas raja tidak akan pernah mampu dipenuhi oleh seorang wanita yang memerintah sendiri. Tetapi Hatshepsut menolak untuk tunduk pada hal ini dan di sekeliling 1437 SM, dia sudah dinobatkan sebagai firaun, mengganti namanya dari model perempuan Hatshepsut – yang bermakna Wanita Mulia Terkemuka – menjadi model pria, Hatshepsu.
Dia sendiri dideklarasikan sebagai “Putra [yang kuasa matahari] Re, Hatshepsut Khenemet-Amun, diberi hidup oleh Re selamanya.”
Catatan prestasi Hatshepsut sebagai Firaun
Selama masa pemerintahannya sebagai firaun, Hatshepsut sering digambarkan dalam bentuk laki-laki, dengan janggut, tubuh laki-laki, dan mengenakan rok dan mahkota raja tradisional.
Hal itu kemungkinan alasannya adalah kurangnya kata atau simbol untuk menggambarkan perempuan dengan status firaun, dan bukan karena cita-cita untuk memperdaya orang biar berpikir bahwa ia adalah seorang pria.
Sebagai firaun, Hatshepsut membangun kembali rute perdagangan yang telah terganggu oleh pendudukan Hyksos di Mesir selama Periode Menengah Kedua (1650-1550 SM). Dia juga bertanggung jawab atas percobaan pencangkokan pohon asing yang tercatat pertama, dikala ia menjinjing 31 pohon mur hidup dari Punt.
Hatshepsut juga menugaskan ratusan proyek pembangunan di seluruh Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Bangunannya dianggap jauh lebih megah dibandingkan dengan bangunan pendahulunya, dan banyak penerusnya berupaya mengklaimnya sebagai milik mereka.
Pencapaian bangunan paling besar Hatshepsut yakni kuil kamar mayit yang dibangun di suatu kompleks di Deir el-Bahri, yang terletak di tepi Barat Sungai Nil. Ini masih dianggap sebagai salah satu keajaiban arsitektur Mesir kuno.
Orang Mesir kuno menyebut kuil kamar mayit Hatshepsut Djeser-Djeseru – Tempat Suci. Konon pembangunan kuil mengkonsumsi waktu 15 tahun, antara 7 dan 22 tahun pemerintahan Hatshepsut.
Senenmut, arsitek kerajaan Hatshepsut, yang mungkin juga kekasihnya, mengawasi pekerjaan di kuil yang megah serta pendirian obelisk Hatshepsut di Karnak. Sebuah monumen di British Museum menyebut Senenmut sebagai “Pengawas Semua Karya Raja”.
Pada 2015, para arkeolog mengidentifikasi kuil lain yang dibangun atas perintah Hatshepsut. Kuil itu berada di kompleks Gebelein 30 kilometer (18,6 mil) barat daya Luxor dan diperuntukkan untuk Hathor dan mungkin Amun-Ra.
Bukti yang didapatkan para peneliti mendukung pemikiran bahwa Hatshepsut berada di balik pembangunan kuil tersebut. Misalnya, bukti berbentukfragmen hieroglif dengan ujung kata feminin, dan cartouche.
Kematian firaun perempuan yang tangguh
Setelah 22 tahun mengambil alih pemerintahan sebagai firaun, di sekeliling 1458 SM, Hatshepsut meninggal, di usia akhir 40-an.
Diyakini dia meninggal karena kanker tulang, kemungkinan terkait dengan penggunaan krim kulit karsinogenik olehnya.
Hasil pemindaian mumi juga memberikan bahwa dia menderita diabetes dan radang sendi. Dia dimakamkan di suatu makam di Lembah Para Raja, di perbukitan di belakang Deir el-Bahri. Dia menyuruh sarkofagus ayahnya dipindahkan ke makamnya juga, sehingga mereka mampu berbaring bersama dalam kematian.
Setelah kematiannya, Thutmose III, anak tiri Hatshepsut, mengklaim tugas firaun, memerintah selama 30 tahun sesudah akhir hayat Hatshepsut. Thutmose III-lah yang menuntut supaya bukti hukum Hatshepsut dihapuskan. Dia mengontrol supaya citranya sebagai firaun dihapus dari kuil dan monumen.
Sepertinya Thutmose III ingin menghilangkan bukti bahwa mereka dipimpin oleh seorang penguasa perempuan yang besar lengan berkuasa. Karena alasan ini, para andal cuma mengenali sedikit wacana keberadaan Hatshepsut sebelum tahun 1822 M, saat hieroglif di dinding Deir el-Bahri diterjemahkan.
Setelah mengenali keberadaannya, ada banyak spekulasi dan pertanyaan ihwal lokasi jenazahnya. Pada tahun 1902, arkeolog Howard Carter memperoleh sarkofagus Hatshepsut, namun sarkofagus itu kosong.
Dia juga menemukan sisa-sisa mebel penguburan yang terfragmentasi dan beberapa ember batu yang rusak di lokasi tersebut, tergolong satu-satunya shabti yang diketahui di lokasi tersebut. Banyak peneliti yakin bahwa makam KV20 di Lembah Para Raja bisa jadi yaitu tempat pemakaman aslinya.
Bertahun-tahun lalu, Dr. Zahi Hawass mulai mencari mumi Hatshepsut. Pertama, ia juga mencari makam KV20. Ketika beliau tidak menemukan apapun, beliau pindah ke makam lain, terletak di Deir el-Bahari, erat kuil kamar mayat populer Hatshepsut, yang dikenal selaku DB320.
Meskipun makam ini tidak berasal dari kala pemerintahan Hatshepsut, itu ialah makam daerah banyak mumi kerajaan dikuburkan kembali setelah makam mereka digeledah selama Dinasti ke-21 dan ke-22. Sementara Thutmose I, II, dan III seluruhnya didapatkan di DB320, Hatshepsut tidak dapat didapatkan.
Dr. Hawass mengunjungi satu makam terakhir di Lembah Para Raja, yang dikenal sebagai KV60, di mana dua mumi telah didapatkan oleh Howard Carter. Setelah beberapa tes dan pemindaian, tanpa balasan, Dr. Hawass nyaris frustasi.
Dia kemudian teringat sebuah kotak kecil yang menurutnya mungkin berisi organ dalam yang membusuk. Setelah memindai kotak itu, beliau mendapatkan organ itu diikuti dengan gigi. Para peneliti meninjau pindaian mumi perempuan dan mendapatkan bahwa salah satu mumi memiliki soket gigi kosong, yang tepat dengan gigi yang ditemukan.
Pengujian lebih lanjut dilaksanakan, dan lewat kekuatan ilmu forensik modern, mumi tersebut secara nyata diidentifikasi selaku Hatshepsut pada tahun 2007.
Identifikasi mumi Hatshepsut merupakan keajaiban arkeologi. Sementara putranya sudah berusaha keras untuk meniadakan Hatshepsut dari lembar sejarah, ilmu pengetahuan modern telah berhasil membongkarnya.