Jembatan Penghubung Antar-Dusun Di Penompo Mojokerto ‘Ambles’
MOJOKERTO, -Jembatan penghubung antar-dusun di Desa Penompo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ambles pada salah satu sisinya.
Amblesnya jembatan pada salah satu ujung atau sisinya tersebut karena penahan ujung jembatan longsor. Agar tetap mampu dilewati, ujung jembatan ditutupi dengan gedek (anyaman bambu). Namun, terang tampaktetap membahayakan pengendara yang melintas.
Rupi, warga setempat menyampaikan, amblesnya ujung jembatan bantu-membantu sudah terjadi lebih dari setahun. Selama ini telah beberapa pengendara motor terjatuh di lokasi.
“Sudah berulang kali pengendara terjatuh di situ, walaupun tidak hingga terjatuh ke sungai,” katanya kepada , Rabu (28/10/2020).
Kondisi kerusakan jembatan sekarang lebih parah menyusul hujan beberapa hari lalu. Tanah penyangga di ujung jembatan pun semakin ambles balasan curah hujan yang cukup deras.
“Warga desa sekitar mengeluhkan keadaan jembatan yang hanya diberikan gedek bambu untuk menahan,” tandasnya.
Ia menilai, kondisi demikian sesungguhnya sudah tidak pantas dan mesti secepatnya ada perbaikan. Namun, ia mengaku tidak mengatahui alasannya hingga hingga saat belum ada perbaikan.
“Ada beberapa yang melaksanakan survei, melakukan pengukuran, foto-foto mungkin dari dinas terkait. Tapi tidak ada apa-apa sampai saat ini,” ujarnya.
Kepala Desa Penompo, Sutoyo mengungkapkan, jembatan itu makin ambles sekitar tiga hari kemudian, dikala hujan pertama kali turun. “Amblesnya tidak ada yang tahu karena terjadi malam hari,” ujarnya.
Menyikapi hal demikian, ia mengaku telah melaporkan secara ekspresi terhadap Camat Jetis. Sedangkan untuk secara tertulis akan secepatnya disusulkan.
“Karena kemarin ada kunjungan Kapolres, jadi belum sempat menciptakan laporan secara tertulis. Mungkin Senin (2/11/2020),” ujarnya.
Ia menjelaskan kondisi rusaknya memang telah lama sebelum beliau menjabat. Sempat ada pengajuan pembangunan jembatan kepada Pemerintah Pusat. Namun dikembalikan lagi ke Pemda.
“Saya bilang ke Pak Bupati Pungkasidi sebelum dia mengamabil cuti. Kata pak Bupati, kesulitan alasannya adalah jembatan itu bukan miliknya kabupaten. Melainkan Pemerintah Provinsi. Sehingga diupayakan bupati merekomendasikan perbaikan ke provinsi,” jelasnya.
Lebih lanjut, kata Sutoyo, dia juga meminta kepada kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Mojokerto, Bambang, untuk menganalisa keadaan jembatan.
“Pemerintah desa tidak mampu menanggulangi. Sudah dilaksanakan pengecekan oleh Pak Bambang dan pak camat. Informasi dari pak Bambang, insya’ allah ini sudah tahap lelang,” jelasnya.
Menurutnya, bila dihitung-hitung pembangunan jembatan itu menghabiskan dana sekitar Rp 2 miliar.
“Kalau bisa nanti diperlebar sekitar 6 Meter, biar muat untuk mobil papasan. Proposal yang aku ajukan lebih dari Rp. 2 miliar. Kalau dilihat, yang perlu perbaikan yaitu seluruh dari jembatanya, besi di bawah telah keropos. Apalagi jembatan itu ialah peninggalan belanda,” paparnya.
Sedangkan untuk pepohonan di dasar sungai bawah Jembatan, Kades Sutoyo mengaku sudah memerintahkan warga desanya untuk mengatasinya.
“Saya memerintahkan tukang potong pohon tidak ada yang berani, katanya chainsaw (gergaji mesin pemotong kayu) bila digunakan air akan ‘nyetrum.’ Sehingga mesti manual,” katanya.